Friday, 13 November 2015

20 Seconds
By:
 Hugo Sistha Prabangkara 


A man sits on the chair outside a café with majestic scenery of Eiffel Tower. He, for some times, shakes his feet. He was intimidated by the huge gray formation of clouds.
Judging eyes are flashing through the streets. But he won’t stop staring at something which identified as nothing by the pedestrians and their judging eyes.
Still, in his own gay profusion he is comforting himself with the same old weary confident.
“No, it won’t rain.” He says it with his eyes drawn into the sky.
“Though it’ll rain soon, I know they’ll give me some more time.” He says.
Tons of burdens weighted his shoulder, pierces him, bones by bones. Then he realized what he has to do.
“Yes, I have to do it!” He says with flaming spirits in his eyes, and he stands up and starts to fulfill his mission. However, he sits back and examines his realization.
“What if I ruined this? What if I just humiliated myself?” He says.
 “I know I am nobody! I know I’m just a stupid man who stares at something that I know I shouldn’t stare! This is useless! Just let it rain! You win!” He says madly upon the gray sky and the cynical gray clouds.
Hence, He crawls back in and he continues destroying his plan that he design about an hour ago but again as usual, he gather his faith one more time and says; “Still, it won’t rain! They’ll give me some more time.”
His face utters smile but with weary spirits. A proof that the sky really intimidating him with her grayish clouds.
He stands up again, gathers his will, and says, “It won’t rain!” and he walk, walk and walk. 10 meters walks turns into miles of walk of judging eyes, second thoughts, and dancing hearts.
 He reaches the pavement, and stares at he believe he should have stared years and years ago. With lighting flashes his pride and thunders claps their hands. It rains, finally. With perpetual spirits that he already gathers, he says;
“Excuse me; is it possible a guy like me could have a chat to someone beautiful like you?”
Smile blooms, rain stops, rainbow grins, and sky turns to blue, the one he stares says with a voice to die for, “Why not?”
Then the story begins…
THE END

--0000--
Ruangan (Gelap, Misteri, dan Ludah)
Hugo S.Prabangkara

Hentakan kaki menjejaki lantai. Ini bukan lantai dansa memang, namun mereka berhias diri menyesaki ruang-ruang aktualisasi diri yang nyata namun fana. Tapi di mataku semua itu palsu, mereka berbaris rapih layaknya sapi yang akan di perah susunya, bukan jadi seperti model nan rupawan yang menjejaki lantai dansa sebuah diskotek ternama.
Bising memang. Pun kaki kaki mereka berderap tak sabar. Ludah-ludah kemudian terlontar karena bualan-bualan mereka. Mereka pun lambat laun membasahi “lumpur” perisai yang teroles di muka-muka bebal mereka. -Mereka saling melempar ludah.-
Satu per satu mereka pun di perah susunya. Terbukti dari tanda secuil kertas tebal berbubuhkan tanggal dan jumlah galon susu yang terperah. Ya, terlihat muka mereka bangga di gerayangi pemerah-pemerah itu. Ya mereka puas.
Laun mataku mengarah ke pemandanngan nan sadis; mereka yang mungil dan lugu pun turut di perah dan di gerayangi. Kenapa?! Kenapa?! Mataku pun perih, namun bagaimanapun juga ini nyata, ini hidup.
Tak lama satu persatu dari merreka dibagi dan digiring ke beberapa ruang gelap dengan lampu layaknya lampu teplok, dari jauh terdengar suara seorang perempuan, mungkin memanggil merreka. Ruangan itu dipenuhi gelap, horor, dan misteri, entah kenapa mereka tetap masuk dengan membusungkan dada dan berdansa kecil.
Pernah dengar aku, kisah. Yang mereka sukar percayai. Kisah dimana ruang gelap itu penuh dusta dan manipulasi. Pernah dengar juga aku ada yg terbakar hidup-hidup. Tapi tetap saja mereka kini mengorbankan diri masuk ke dalam ruangan yang “disakralkan” itu.
Lagi ku pandang gerbang masuk itu, beberapa dari mereka masuk dengan warna-warna yang tak sedap di pandang. Dengan robekan kain menutupi badan mereka. Tak sadar kah mereka di sini dingin sedingin musim hujan di semeru?
Masih dengan kebingungan ku pandang satu persatu. Otak ini pun penuh dengan fakta fakta yang teracun opini yang sudah mulai bertengger di ujung lidah.
"silahkan.." Ujar seorang pemuda tegap berkulit gelap, berkain hitam.
Giliranku telah tiba. Aku pun terpaksa masuk, terdorong penasaran, dan misteri.

Selamat tinggal teman. Aku masuk dalam gelap. -Selamat malam.-

Friday, 21 February 2014


Kekuasaan ada di Tangan Kita
Hugo S. Prabangkara

Rasanya pesta demokrasi negara ini sudah sangat terlihat di depan mata. Semuanya terlihat jelas “memanjakan” mata kita semua lewat layar kaca, poster-poster yang menyiksa pohon, hingga pagar tanaman, bilaho yang terkesan arogan menutupi iklan-iklan yang sudah ada sebelumnya. Dari sekian banyak cara yang saya amati,  ada dua cara yang saya amati dapat sangat menurunkan martabat mereka sendiri sebagai calon pemimpin dan menurunkan martabat kita,calon pemilih sebagai warga Negara ini.

Pertama,  penyebaran selebaran-selebaran calon-calon plus kartu namanya yang dibagikan pada kegiatan keagamaan. Tidak hanya itu, beberapa calon meng-infiltrasi kegiatan-kegiatan keagamaan dan berorasi dengan alasan “memperkenalkan diri”. Menurutku cara ini sangat tidak menunjukan sisi kreatifitas dan intelektual mereka. Dengan lantangnya mereka membawa-bawa nama Tuhan dengan segala namaNya, bersumpah-sumpah dihadapan umat yang mungkin sebagian besar tidak tahu kalau ada acara “ramah-tamah” semacam ini. Semua ini biasanya dengan alasan; supaya mereka dikenal umat, dan kelompok-kelompok harus memfasilitasi mereka. Ya mungkin alasan ini mungkin agak bisa diterima, tetapi akan lebih berwibawa dan membanggakan apabila mereka merancang acara sendiri dan tidak nlesep di kegiatan-kegiatan tersebut.

Kemudian ada cara kedua yang lebih hina lagi membagi-bagikan harta benda agar calon-calon pemimpin yang terhormat ini terpilih. Sampah! Ya, ini calon-calon sampah! Cara ini, menurutku, sama saja dengan melacurkan diri kita para pemilih dianggap sebagai pelacur murahan yang dengan mudahnya terpikat dengan uang . Tidak ada harga diri sama sekali!

Dari sekian cara ini, belum ditambah dengan “nyanyian” lantang calon-calon pemimpin tersebut, kampanye masal buatan tim sukses yang (kadang) membisingkan telinga, dan (mudah-mudahan tidak terjadi) munculnya black campaign dan isu-isu yang bertujuan menjatuhkan calon-calon lain. Memang, kita sebagai pemilih harus sabar, tersiksa menunggu hari itu, tapi sementara itu biarlah kita dipaksa mendengarkan “nyanyian” lantang mereka, biarlah kita dimanjakan dengan wajah-wajah tak dikenal yang menerjang pinggir-pinggir jalan dan layar kaca, biarlah mereka menghamburkan uang. Tapi kekuasaan masih ada di tangan kita.

Kita sebagai pemilih harus membusungkan dada. Nasib mereka ada di tangan kita! Kita harus cerdas, kita harus kritis. Jangan mau seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Jangan mau menerima uang dari mereka. Jika ditanya katakan saja dengan bangga; “Saya akan  pilih siapa saja yang saya percaya secara objektif”. Kita sebagai pemilih jangan asal pandang siapa mereka, dari keluarga siapa mereka? Agama apa mereka? Ras apa? Suku apa? Saat pesta demokrasi nanti kita satu!  Jauhkan pikiran fanatik, diskriminatif, dan bebal. Buktikan kita layak memilih! Pilihan kita nanti, entah A, B, C, D, atau Golput tak masalah buktikan saja dengan komitmen kita menjadi pemilih.

Monday, 10 June 2013

The Train

A man drowned in smile,
"This is my time..."
He said with pride.
He's got the ticket not so long ago.
He'll be gone for the train.

Not things he'll be packed,
only trust that may not be tarnished,
"The 'Greens' won't work, The Landlord told me."

The long walk
for him,
For 59 years old of him,
Will not be sweet,
However trust will give him some.
The Sweets.

Stands still at the platform,
With dancing heart
And singing soul.
He hopes the train may come,
In time.

He drowned in smile
With dreams to die for,
He raises his foot,
Holds on the pole,
Time to say goodbye.

He rides on the train,
Smiles....and tears for a while.
"The LandLord is good, the LandLord is good...!"
He says with tears of joy
and drowning smile.
With dreams to die for.

The Train

A man drowned in smile,
"This is my time..."
He said with pride.
He's got the ticket not so long ago.
He'll be gone for the train.

Not things he'll be packed,
only trust that may not be tarnished,
"The 'Greens' won't work, The LandLord told me."

The long walk
for him,
For 59 years old of him,
Will not be sweet,
However trust will give him some.
The Sweets.

Stands still at the platform,
With dancing heart
And singing soul.
He hopes the train may come,
In time.

He drowned in smile
With dreams to die for,
He raises his foot,
Holds on the pole,
Time to say goodbye.

He rides on the train,
Smiles....and tears for a while.
"The LandLord is good, the LandLord is good...!"
He says with tears of joy
and drowning smile.
With dreams to die for.

A Lover of Century


Once did I visit on a path of adventure
Near the fountain of perpetual affection
Where laments are no longer my sin,
Yet I enjoy, a slightly question of love.
-How long will love last? –

And There I sat, crossed-leg sat, facing toward a lover.
A lover, if I may say, as old as the looming trees behind them.
Their gay-ish smiles, shiny yet grayish eyes purely
Dictate me, love of loves.
-How could they be so alive?-

The looming trees, dancing.
The wind, compose.
The bees, buzzing.
The sun, slightly warm.
The clouds, clothed them.
While I
Inspired!

The nature of a lover endlessly blessed them both,
Yet, I saw, a lovely reflection of me
Sit on their very spot,
With the looming tree behind.
How much longer should I wait?
A century he said,
a century of living  striving life of lives for love of loves

yet, once you have found it, he said,
boy you feel so alive.

Dangerous Thoughts

Few I shall adore
Few I shall adore
To die, to be ignored
To die, to be ignored.

My mind. Wanders.
I think too much;
"Why's what."
"How's what."

I put them in threat, said they
"Too dangerous!", said he
"Too vivid!", said she
"Where's fate, where's faith?" Said I

I am right, you are wrong
We both right, they are wrong
"Such rules of boredom!"
The righteous and the wrongs
The goods and the sinners
The agnostics and the atheists
The religious and the damned

Head of mine, spinning, asking, contemplating;
"Where to go?"
Wanders and wonders my mind;
"How's what?"
"Why's that?"

Devoted, some lives had.
To seek the "truth"
The "comfortable illusion of truth"
To answers;
What's right, what's wrong
How's right, how's wrong

O God !
How I stop this lethal mind?