Sabtu, 26 Mei 2012

You'll Get It Straight Someday


Throw that memory away, erase it anyway
Even though it’s worth to chase
Slip it through your mind, love indeed blind
You’ll get it straight someday

That flower won’t bloom, they turned them into gloom
But don’t give up your heart in an instance
Sleep through the night, let it blithe
You’ll get it straight someday

Though the idle evil haunt your souls
Though their pretty faces made you blind
Though her ecstasy smile drive you out of your mind

Walk your body tall with your pride
Remember you have to moving on
Slow but surely do, soon across the tide
And those love you’ve given simply gone

So take another sight, try the night,
It might give you another delight
So take another sip, try the morning dip,
It soon might give you the chirp

Yet another rainbow waits another smile
Yet another star took for another mile
Yet another sight will throw you out from their vile

Throw that memory away, erase it anyway
Even though it’s worth to chase
Slip it through your mind, love indeed blind
You’ll get it straight someday 

Minggu, 06 Mei 2012

Dulu


Riak riak air tak ramah
Saji nostalgi dalam jengah
Gubuk tak terasa dulu
Hitam termakan malam sendu

Dulu manis riasi air muka
Riak belum menggetir raga
Masih di rundung suka suka
Masih di ciumi indah dinda

Laun kini terdakwa bimbang
Diam kelam ingat cinta dinda hilang
Di genapi usia laun lekang
Cinta hilang, usia lekang, dinda hilang

Tua aku kini
Hanya menunggu hentakan mati
Laun bawaku ke dinda surgawi

Ya hanya menanti...
Menanti dengan iringan nostalgi
Kala dulu hidup tak sendiri
Kala dulu hidup dua hati

Kala dulu...
Dulu...

Rabu, 21 Maret 2012

Gubahan Diri

" Masihkah kau pendam dia?"
Tanya kawan sederajat.
" Entah..."
Jawabku engah -- Napas berat, terbeban jerat--

Sewaktu waktu memang kutemu, namun terlalu dekat tuk ku rayu.
Sewaktu waktu ku jauhi, namun terpatri rindu padanya selalu.

Cinta manis, memang. Tapi kejam jua.
Menusuk dia ke jantung bertubi tak henti,
memakan dia akal sehat laun racuni rindu.

Dia, dia memang kudamba. Tapi api terlampau rekat,
timbulpun ragu meng-amin nekat.

Hingga kini,
coba tengok dara di lain sangkar,
masih saha terguling ke sangkar lama,
ini entah cinta atau siksaan,
bakar ku pelan dengan api gairah,
buatku berteriak gubahan mesra.

Duh dinda,
gadis terdamba di pucuk romansa,
harap ku kau bertengger di sangkar lain,
hingga ku siap menggasak duri
tanpa kehilangan seorang kawan.

Minggu, 26 Februari 2012

Entah Judulnya Apa

"Aku,

penakut bermain angin,

belum coba buktikan ingin,

tak memaku sikap yakin,

tapi kerap hanya gumuli dingin."



- ujarku menatap hujan-



Dentang jantung,

tegaskan gemuruh hati.

Tak dusta kala lihat dua bola mata yang bening,

menusuk pelan dengan pisau tumpul,

menggiring logika jauh dari kata normal,

hingga paksaku menunggu bukaan pintu.



Tapi,



"aku penakut memasrah waktu,

duduk diam laun membatu,

tunggu disini bersama kalbu,

menanti ratu yang laun datang seiring waktu."



- ujar ku tanpa daya -



Mungkin,

memang belum terbukti dengan materi,

tapi dari sorot tajam mata bening mu ,

dari hindaran tatapmu ke mataku,

kau tahu.



Lalu,

Siapkah dikau?

Bila ku menggila di depan mu mengata kasih?

Mengucap cinta?

Siapkah dikau?



Tapi kujelaskan ke padamu



- semoga tersampaikan-



Aku bukan orang gila yang bermain cinta di tengah hujan,

aku bukan orang gila yang bermain cinta di tengah kalutmu,

aku bukan orang gila yang bermain cinta di titik jauhmu,

aku hanya orang gila yang mungkin menggilaimu hingga cinta pun jadi bumerang bagiku,

aku hanya pemain kata yang tak pandai mengungkapkan cinta secara gamblang di depan tatapmu,



Mungkin yang kurangkai ini kau anggap usang,

tapi ini tentang kata yang selalu tertelan saat menatapmu.



Lalu,

Aku harap kau siap,

jika untaian sampah ini,

ku utarakan di depan wajahmu,

di depan jantungmu,

suatu waktu.



"Aku,

bukan penakut pemasrah waktu!"

Jangan Injak Kaki Saya

Perempuan

bermata bening,

berkulit kaca

masuk ke dalam ruang

naik ke lantai tiga



Laki laki

berwajah sedang,

bertubuh tegap, lajang

masuk ke dalam ruang

naik ke lantai dua



Anak kecil

berumur lima

bersama bunda

merengek pulang

bunda tak senang

masuk ke dalam ruang

naik ke lantai dua juga



Kakek nenek

separuh baya

tua tapi jiwa muda

masuk ke dalam ruang

bergandengan ke lantai tiga



Ruangan penuh

semua berpeluh

sang anak mengeluh

sang laki laki melenguh

keras.



Semua bingung

"ada apa?" Ujar penghuni ruang

Sang nenek tatap kakek,

sang bunda tatap anak

sang perempuan tatap sang laki laki

penuh tanya,



laki laki tatap balik bilang

"Sakit. Jangan injak kaki saya."

Jumat, 17 Februari 2012

Mata

Penipu ulung di tengah pelik
di tengah dugaan,
di kala gundahan,

Tertipu sering seorang cerdik,
termakan godaan,
terbunuh hasrat setan,

Seorang jelita cantik di ujung mata
mendekat berbau busuk, termakan dusta
pernah kau alami?

Seorang suci sebar agama,
di cium harta nikmat hingga rela diperkosa
pernah kau dengar?

Mata mungkin penyesat,
tapi penting jika kau kawinkan dengan hatimu,

Mata bilang,"cobaan"hati bilang"anugerah"

mata bilang,
"cacat"
hati bilang
" aku indah"

Mulai Lagi

Mulai Lagi.
Otak termakan mimpi,
Logika tak bernyali,
tak tersinkron,
berargumen dan kalah.
Kini tertaut fakta; TERBUKA.

Seorang kawan bijak. Utar;
" Mulai, Mulailah lagi."
Tapi aku masih bersiul,bosan bernyanyi.
Aku masih berjalan, malas berlari.

Tapi,
Hati masih bermimpi,
mata indah terbalut cinta di siang panas
yang laun buatku benci siul,
laun ku menyanyi dinda. Tanpa nada minor.
Kawini tarian tangan ku di pucuk gitar, engkau mainkan instrumen napas
Dinamis dengan arahan degup jantung

Mulai Lagi.
Khayalan setinggi Mahameru.
Sedalam Samudera biru.
Tanpa pikir deru.Tanpa hirau debu.
Mengatur tarian seorang geulis bernama cinta,
menari di hati hamba dan dinda,

"BAIKLAH",

Mulai lagi Aku.
Tak hirau pikir ulang.
Tak hirau malam menjelang.
Hati tak pernah usang