Minggu, 26 Februari 2012

Entah Judulnya Apa

"Aku,

penakut bermain angin,

belum coba buktikan ingin,

tak memaku sikap yakin,

tapi kerap hanya gumuli dingin."



- ujarku menatap hujan-



Dentang jantung,

tegaskan gemuruh hati.

Tak dusta kala lihat dua bola mata yang bening,

menusuk pelan dengan pisau tumpul,

menggiring logika jauh dari kata normal,

hingga paksaku menunggu bukaan pintu.



Tapi,



"aku penakut memasrah waktu,

duduk diam laun membatu,

tunggu disini bersama kalbu,

menanti ratu yang laun datang seiring waktu."



- ujar ku tanpa daya -



Mungkin,

memang belum terbukti dengan materi,

tapi dari sorot tajam mata bening mu ,

dari hindaran tatapmu ke mataku,

kau tahu.



Lalu,

Siapkah dikau?

Bila ku menggila di depan mu mengata kasih?

Mengucap cinta?

Siapkah dikau?



Tapi kujelaskan ke padamu



- semoga tersampaikan-



Aku bukan orang gila yang bermain cinta di tengah hujan,

aku bukan orang gila yang bermain cinta di tengah kalutmu,

aku bukan orang gila yang bermain cinta di titik jauhmu,

aku hanya orang gila yang mungkin menggilaimu hingga cinta pun jadi bumerang bagiku,

aku hanya pemain kata yang tak pandai mengungkapkan cinta secara gamblang di depan tatapmu,



Mungkin yang kurangkai ini kau anggap usang,

tapi ini tentang kata yang selalu tertelan saat menatapmu.



Lalu,

Aku harap kau siap,

jika untaian sampah ini,

ku utarakan di depan wajahmu,

di depan jantungmu,

suatu waktu.



"Aku,

bukan penakut pemasrah waktu!"

Jangan Injak Kaki Saya

Perempuan

bermata bening,

berkulit kaca

masuk ke dalam ruang

naik ke lantai tiga



Laki laki

berwajah sedang,

bertubuh tegap, lajang

masuk ke dalam ruang

naik ke lantai dua



Anak kecil

berumur lima

bersama bunda

merengek pulang

bunda tak senang

masuk ke dalam ruang

naik ke lantai dua juga



Kakek nenek

separuh baya

tua tapi jiwa muda

masuk ke dalam ruang

bergandengan ke lantai tiga



Ruangan penuh

semua berpeluh

sang anak mengeluh

sang laki laki melenguh

keras.



Semua bingung

"ada apa?" Ujar penghuni ruang

Sang nenek tatap kakek,

sang bunda tatap anak

sang perempuan tatap sang laki laki

penuh tanya,



laki laki tatap balik bilang

"Sakit. Jangan injak kaki saya."

Jumat, 17 Februari 2012

Mata

Penipu ulung di tengah pelik
di tengah dugaan,
di kala gundahan,

Tertipu sering seorang cerdik,
termakan godaan,
terbunuh hasrat setan,

Seorang jelita cantik di ujung mata
mendekat berbau busuk, termakan dusta
pernah kau alami?

Seorang suci sebar agama,
di cium harta nikmat hingga rela diperkosa
pernah kau dengar?

Mata mungkin penyesat,
tapi penting jika kau kawinkan dengan hatimu,

Mata bilang,"cobaan"hati bilang"anugerah"

mata bilang,
"cacat"
hati bilang
" aku indah"

Mulai Lagi

Mulai Lagi.
Otak termakan mimpi,
Logika tak bernyali,
tak tersinkron,
berargumen dan kalah.
Kini tertaut fakta; TERBUKA.

Seorang kawan bijak. Utar;
" Mulai, Mulailah lagi."
Tapi aku masih bersiul,bosan bernyanyi.
Aku masih berjalan, malas berlari.

Tapi,
Hati masih bermimpi,
mata indah terbalut cinta di siang panas
yang laun buatku benci siul,
laun ku menyanyi dinda. Tanpa nada minor.
Kawini tarian tangan ku di pucuk gitar, engkau mainkan instrumen napas
Dinamis dengan arahan degup jantung

Mulai Lagi.
Khayalan setinggi Mahameru.
Sedalam Samudera biru.
Tanpa pikir deru.Tanpa hirau debu.
Mengatur tarian seorang geulis bernama cinta,
menari di hati hamba dan dinda,

"BAIKLAH",

Mulai lagi Aku.
Tak hirau pikir ulang.
Tak hirau malam menjelang.
Hati tak pernah usang

Rabu, 15 Februari 2012

Status

Terpaku termakan waktu,
pandangi layar,
Hingga mata merah terbakar benar,
Hanya pikir satu tak termimpi,
ubahan konlusi pujaan hati.

Jumat, 27 Januari 2012

Nikmat.Mati.Pelan

Aku 17,
muda hebat.

Aku SMA,
anak manusia.

Aku perjaka,
sumpah masih.

Aku pemuda,
melilit paru,
menggubah asap,
melegitimasi,
salahkan nasib

Dia 5 tahun,
terhirup dosa,
Mati cepat.
terlilit, paru.
tergubah asap,
terlegitimasi,
di perkosa nasib.

Aku pemuda,
Nikmat.
Mati.
Pelan.

Kamis, 29 Desember 2011

Di Kota Ini Pria Itu Berjalan

seorang pria muda berjalan di lorong itu, berjalan pelan,
 tikus tikus jalanan bergelimpangan
"MATI"
mati seperti kota ini.
 lalat berterbangan mencari cari makan
kotor seperti jalan ini.

pria muda berjalan lagi, berjalan lebih cepat, di jalan ini
sesak dada terasa.
memang dia hirup udara mati, udara kesengsaraan, udara ketidak adilan.
sesak pun tak lagi dia runding
dia lari di jalan ini
lari lari dan lari

Pria muda itu pun hanya diam di jalan ini.
tengadah, berharap temu jalan keluar.
tapi mustahil.
surya pun tak menyinari.
dia pun bergumam;
"bajingan macam apa yang tega membuat tempat ini?"

gumam dia,
kemudian muncullah bajingan pertama
terlihat bijak.
Tapi bajingan memang,
di dalam bijak terdapat bau tak sedap menyelimuti nya
dia utarakan kata palsu!
kata palsu yang menutupi coreng moreng hatinya

pria muda itu pun pergi melengos
meninggalkan bajingan pertama itu.

jauh terasa dekat.
ujung jalan tak terlihat.
buyar buyar buyar
dalam buyar
bajingan kedua muncul, dekati Pria muda itu
tapi dia hanya bohong.
coba membawa bawa tuhan,
tapi namanya juga bajingan dia hanya cari muka.
sesat.
korbankan manusia untuk manusia,
sia sia

pria itu pun berlari lebih kencang.
sebelum ujung terlihat  bajingan bajingan itu pun datang membawa bajingan ber senjata.
menyeret beberapa tikus keluar dari kandangnya.
merusak kandang itu.
untuk gudang uang bagi bajingan bajingan itu.
mereka bedebah bajingan ! gumam pria muda itu.

para bajingan itu tega memang,
tapi para tikus pantas dapatkan itu.
logika bepikir, tikus itu juga bajingan
dialah yang membuat kota ini mati, dan kotor

Tapi,

para bajingan bersenjata sepertinya belum berkaca,
harusnya mereka tangkap diri mreka sendiri.
hakikat berkata mereka juga salah.

tapi tak ada yang punya kejantanan
untuk menyeret mereka.
karena Pria muda itu merasa bahwa dia juga bajingan.
Bajingan karena tega tinggalkan Kota ini. jalan ini.

akhirnya yang dia sebut bajingan pun melumer dan menjalar ke pangkal hidup nya
dia menjadi para tikus kotor itu.
Pria muda itu pun menangis mendengar kata hatinya yang mengaku.
akhirnya dia berlari menerjang bajingan bersenjata itu.

coba menolong mereka
mereka?
padahal mereka berdosa.
berdosa memang, tapi mereka sama.
kita semua memang bajingan.
tidak ada yang tidak.
walau bawa bawa nama baik dan jujur pasti ada kebusukkan.

walau hati pria muda masih beradu
pria itu tetap terjang mereka.

ambruk...
jatuh tak berdaya.
tubuh sudah memerah,
napas sudah terengah,
dia cium tangannya...

anyir darah tercium
dia pun menangis...
tangisan duka dan bangga

duka karena impian sirna
bangga karena bela tikus kecil itu...
walau bajingan...
mereka saudaraku...
gumamnya di pangkuan khalik.